02.46 |
Gombal Cantik
03.53 |
wajah itu
menyihir mataku enggan berkedip
terlupa sejenak aku tak layak
namun sepintas tak lupa
terus membayang
cantik
begitu nyaman mata mencumbumu
tak lepas mimpi malam kau hantui
cantik
gila jadinya, kesadaranku pecah
meluapkan rasa membuncah
cantik
mengikis pedihku akan luka lama
meraup rinduku yang lama nestapa
menggedor jantungku, menjerat nadiku
cantik
wajahmu manis menyita rindu
menjarah hatiku yang lama tak tersentuh
ragu aku akan rasa
namun yakin itu nyata
cantik
senyummu indah membasuh jiwa
mengikat rindu menjarah rasa
pelan
pelan
tersemai kembali cinta tersita
terngaung akan wajah merona
Rasa temaram
19.22 |
lepaskan semua bebanku
genggaman tanganmu, kekang aku
membekap sesak
menyiksa, membelit jiwaku
jangan kau menjerat
namun akhirnya kau abaikan
terseok dalam harap dan asa terluka
perlahan tancapkan perih derita
beralaskan daun rembulan
bertiraikan senyuman bintang
kuterka cara untuk melepas getaran
tapi sedikitpun enggan menjauh
selalu terasa dekat
terikat
terpaku
memberi perih dalam senyum
berteman embun sirami fajar
tetap kulirik dengan mata temaram
dalam diam, aku rasa nikmat-Mu
07.07 |
mungkin
sejenak aku menarik nafas
menggumam pada malam, eluhkan kelelahan hati
terasa semua mengkhianati
yang dahulu setia mendekap menghabiskan malam
tak terasa malam kembali menyendiri
hening hanya terasa temani
temaram malam sepi permata
deru angin hanya terbersit sejenak ditelinga
kembali aku ke masa lalu
mengenang lembaran kusut yang terajut senyumanmu
menyusun kembali serpihan rindu yang membatu
dihati, tak ingin lari, lepas pun enggan
malam merindukanmu
mentikkan pedih akan cinta yang pasrah
ikhlas rasa yang tak terbalas
senyum pedih tak lekang
mengharap hatimu yang kian jauh
aku hanya terdiam
bercumbu dengan kelam malam
dibawah naungan sinar gelap
aku diam, terpaku, hanyut dalam siulan rembulan
aku rasa nikmat-Mu
ditengah perjalanan nestapa ini
aku, kau menunggu
03.23 |
lihatlah sejenak
pandang tatapku penuh harap denganmu
meniti jejak-jejak hampa menantimu
menggores waktu, sia-siakan masa lalu
deburan tangis tak terdengar lagi
tak ada lagi perih yang menggelayuti
hanya termangu menunggu
dibalik tirai peluh jiwaku
aku enggan kembali menangis
semakin sempit perih yang kau lukis
namun masih aku bosan
menunggu pasti sebuah jawaban
harap hilang timbul dari kerlingmu
dekat dan jauh tergantung dibibirmu
apakah aku yang harus menunggu
atau kau menunggu aku Read Users' Comments (0)
Badai Pasti Berlalu
18.40 |
awan hitam di hati yang sedang gelisah
daun-daun berguguran
satu satu jatuh ke pangkuan
kutenggelam sudah ke dalam dekapan
semusim yang lalu sebelum ku mencapai
langkahku yang jauh
kini semua bukan milikku
musim itu telah berlalu
matahari segera berganti
gelisah kumenanti tetes embun pagi
tak kuasa ku memandang dikau matahari
kini semua bukan milikku
musim itu telah berlalu
matahari segera berganti
badai pasti berlalu
badai pasti berlalu
Merepih Alam
18.18 |
kunanti fajar berkawan angin malam
oh asmara