RSS

Apa sih Kalah TERHORMAT itu?

Lagi, lagi, dan lagi. Indonesia menerima kekalahan di final, kali ini dalam ajang Sea Games, setelah ditekuk Malaysia dengan adu penalti.

Kali ini saya tertarik untuk membahas beberapa komentar masyarakat tentang final event paling bergengsi di Sea Games ini.

sebelum final dimulai, suporter dari kedua kubu sama-sama memprediksi menang. Yang berbeda, suporter Indonesia memprediksi kita akan menang besar. sedangkan suporter Malaysia memiliki komentar yang sederhana, mereka mengakui kita kuat, jadi mereka memprediksi mereka akan menang selisih gol yang sedikit. Inilah perbedaan antara suporter yang percaya diri dan sedikit sombong dengan suporter yang rendah hati.

alhasil, kita kalah dalam adu penalti. Namun, saya sangat setuju dengan sikap sebagian suporter Indonesia yang dapat menerima kekalahan dengan lapang dada.

sebagian berkomentar bahwa kita bermain dengan cukup bagus, namun hanya nasib sial saja. memang saya akui permainan Malaysia lebih baik dari permainan tim nasional kita. banyak yang bilang kita kalah terhormat, karena kita kalah tos-tosan. Tapi, itu memang kalah terhormat, tapi kalah terhormat bukancuma kalah hanya karena adu penalti. Tetapi, kalah terhormat adalah kekalahan yang diterima tim secara sportif, terus bertanding hingga akhir, tidak menyerah di tengah petandingan. kalah 5-0 pun jika tetap bertanding sampai akhir, itu juga kalah terhormat. Jadi, bukan cuma adu penalti. tapi, terus bertanding hingga akhirlah merupakan kekalahan yang terhormat.

Read Users' Comments (0)

Kita yang kurang ber-Syukur

ini hanya sebuah catatan kecil, mungkin tak terlalu penting. tidak ada maksud menyindir siapa pun. hanya menurut pengamatanku saja. orang, bahkan kita, yang masih tidak bersyukur.

Malam ini akhirnya hujan kembali turun. sebuah hal yang jarang semenjak bulan Agustus. Bulan-bulan sebelumnya, kita sering mengeluh "aah, ujan lagi". dengan alasan "barusan udah nyuci motor, udah kotor lagi", atau "cucian aku masih banyak, ujaaaaan terus". dan banyak lagi.

kita semua mengerti, banyak yang berkata ucapan itu adalah do'a. dan itu real saja menurutku. Tuhan mendengar keluhan kita. ucapan kita, ingat, secara tidak langsung perkataan diatas adalah sebuah penolakan, ketidaksetujuan terhadap nikmat Tuhan. kemudian Tuhan "menuruti" kemauan kita. mendengar keluhan umatnya yang tidak pernah puas dengan nikmat yang telah diberikan. Dia ubah menjadi kemarau. alhasil, dalam dua bulan ini. hujan sangat jarang terjadi. tanah menjadi kering kerontang, sumur kering, air semakin turun. 

lalu manusia? kita? apakah akan bersyukur dengan dihilangkannya hujan. banyak kita yang bersuara "ngapain lagi hujan ga turun-turun, sumur dirumah udah mau kering". banyak yang mengeluh kekurangan air. kita selalu menyalahkan sesuatu yang seharusnya kita sadari. kita terlalu banyak kehendak, masih beruntung Tuhan masih mendengar perkataan kita. 

dikasih hujan, protes. diberi kemarau, selalu saja ngoceh. sama saja kita tidak menerima keputusan Tuhan kan??

malam ini, ada temanku yang membuat status "ai, dak jadi lagi dak jadi lagi. ngp lah pake acara ujan pulak" padahal kemarin dia mengeluh kenapa hujan tidak turun-turun. sadar dong, kita JANGAN MENGATUR TUHAN. bersyukurlah atas segala nikmat yang Dia berikan. sudah terlalu banyak nikmat-Nya yang kita syukuri.


#mohon maaf jika ada yang tersinggung, ini hanya sebuah pendapat dari saya. untuk mengintropeksi diri. dan sadar bahwa dunia ini ada yang mengatur nya, itu saja.

Read Users' Comments (0)

Satu Jam Saja

Dipopulerkan oleh Audy dan Lala Karmela


jangan berakhir aku tak ingin berakhir
satu jam saja kuingin diam berdua
mengenang yang pernah ada

jangan berakhir karena esok takkan lagi
satu jam saja hingga kurasa bahagia
mengakhiri segalanya

tapi kini tak mungkin lagi
katamu semua sudah tak berarti
satu jam saja
itupun tak mungkin, tak mungkin lagi

jangan berakhir kuingin sebentar lagi
satu jam saja ijinkan aku merasa
rasa itu pernah ada

Read Users' Comments (0)

Membenamkan asa mengingat rupamu
membalut sesal dalam jiwa
matamu nanar tatapku pedih
menghunus rasa tak terjangkau

kau mawar
hitam dalam gelap
tak tampak rupamu dalam kelam
harummu semerbak, durimu menyeruak
darah, penyesalan

kau membunuh dalam senyum
penjagal ulung dalam perasaan
mengikis lembut penuh perih
mati, perlahan

kau mutiara dalam lumpur
indahmu nyata namun tak kurasa
hanya sedikit kilau
antara keruhnya cinta

sesal, noda, derita

tiada sajak yang berkesan
antara tangisan dan penyesalan
semua keruh, kelam, tak bersuara

kering, serak, dan membisu

kini hatiku menarik diri
mencoba lapangkan sanubari
setelah tersayat duri-duri
mawar hitam di dalam sunyi

Read Users' Comments (0)

Gombal Cantik

wajah itu
menyihir mataku enggan berkedip
terlupa sejenak aku tak layak
namun sepintas tak lupa
terus membayang

cantik
begitu nyaman mata mencumbumu
tak lepas mimpi malam kau hantui
cantik
gila jadinya, kesadaranku pecah
meluapkan rasa membuncah

cantik
mengikis pedihku akan luka lama
meraup rinduku yang lama nestapa
menggedor jantungku, menjerat nadiku

cantik
wajahmu manis menyita rindu
menjarah hatiku yang lama tak tersentuh
ragu aku akan rasa
namun yakin itu nyata
cantik
senyummu indah membasuh jiwa
mengikat rindu menjarah rasa
pelan
pelan
tersemai kembali cinta tersita
terngaung akan wajah merona

Read Users' Comments (0)

Rasa temaram

lepaskan semua bebanku
genggaman tanganmu, kekang aku
membekap sesak
menyiksa, membelit jiwaku

jangan kau menjerat
namun akhirnya kau abaikan
terseok dalam harap dan asa terluka
perlahan tancapkan perih derita

beralaskan daun rembulan
bertiraikan senyuman bintang
kuterka cara untuk melepas getaran
tapi sedikitpun enggan menjauh
selalu terasa dekat
terikat
terpaku
memberi perih dalam senyum

berteman embun sirami fajar
tetap kulirik dengan mata temaram

Read Users' Comments (0)

dalam diam, aku rasa nikmat-Mu

mungkin
sejenak aku menarik nafas
menggumam pada malam, eluhkan kelelahan hati
terasa semua mengkhianati
yang dahulu setia mendekap menghabiskan malam

tak terasa malam kembali menyendiri
hening hanya terasa temani
temaram malam sepi permata
deru angin hanya terbersit sejenak ditelinga

kembali aku ke masa lalu
mengenang lembaran kusut yang terajut senyumanmu
menyusun kembali serpihan rindu yang membatu
dihati, tak ingin lari, lepas pun enggan

malam merindukanmu
mentikkan pedih akan cinta yang pasrah
ikhlas rasa yang tak terbalas
senyum pedih tak lekang
mengharap hatimu yang kian jauh
aku hanya terdiam
bercumbu dengan kelam malam
dibawah naungan sinar gelap
aku diam, terpaku, hanyut dalam siulan rembulan
aku rasa nikmat-Mu
ditengah perjalanan nestapa ini

Read Users' Comments (0)