RSS

Comeback, i'm student in College now!

Hahaha. Udah lama ga ngebuka blog nih. Ini blog udah jadul dan rada-rada alay yah. hahaha. Maklum, terakhir entri saat saya masih kelas XI SMA. And know, i was a student in University. Yah, menyikapi perjalanan setahun tanpa mengentri ini, banyak pengalaman yang mungkin ga sempat saya ceritakan kepada para pembaca (emang blogger ini ada yang baca? hahaha). Jika setahun yang lalu saya memakai seragam putih abu-abu, sekarang udah mengenakan seragam bebas-sopan-rapi-rambut bebas. In College, i Choose the Faculty of Technique, Department of Electrical Engineering, University of Sriwijaya. Kenapa harus Unsri? Kenapa harus Teknik? Kenapa harus Elektro?

Tentu panjang sekali cerita yang harus saya paparkan di sini, mungkin akan saya bagikan dalam entri berikutnya. Setidaknya, saya sudah kembali mengurusblog yang berdebu ini.

Read Users' Comments (0)

Pertemuan

Pertemuan

sesunyi air, kita diam menatap laut
menyentuh jemari kaki yang menjuntai.
“adakah rindu, kerap menyapa
seperti kesetiaan laut menyapa tepian?”
dalam hening angin, kita diam menatap kepak camar
sesekali menukik ke laut lalu melayang bersama kekasihnya.
“adakah perjalanan seperti camar
melayang, menukik, mencari diriku?”
nyiur bernyanyi, tapi sunyi masih menyapa
meskipun air laut kerap menggoda
dan kita terkadang seperti pencuri.
“disini hanya ada sunyi, keheningan
seakan-akan keindahan: sesungguhnya penghias!”
aku menangis mendengar sapamu,
“pulau ini, tak bernama
seperti kita tak pernah tahu harus terdampar!”
kau tersenyum kecil lalu tergelak,
“kita masih saja bermain-main disini
seolah-olah keramaian mengelilingi
tapi, lihatlah hanya ada pasir, nyiur, dan air laut, dan kita!”
dua perahu, terdampar berhimpitan.
perahuku retak, perahumu pecah
lalu bersama kita menatapnya.
“adakah cara untuk kembali
atau memang harus terkubur disini
adik di lembah, abang di puncak bukit!”
sesunyi air, kita diam menatap laut
mengelus jemari kaki.

sumber : http://ironibatanghari.wordpress.com/2008/06/13/pertemuan/

Read Users' Comments (0)

Jembatan

Sutardji Colzoum Bachri

Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung
airmata bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap
dalam basa-basi dalam ewuh pekewuh dalam
isyarat dan kilah tanpa makna
Maka aku pun pergi menatap pada wajah
orang berjuta
Wajah orang jalanan yang berdiri satu kaki
dalam penuh sesak bis kota
Wajah orang tergusur
Wajah yang ditilang malang
Wajah legam pemulung yang memungut
remah-remah pembangunan
Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar
penonton etalase indah di berbagai plaza
Wajah yang diam-diam menjerit melengking
melolong dan mengucap:
tanah air kita satu
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu
Tapi wahai saudara satu bendera, kenapa
kini ada sesuatu yang terasa jauh beda di antara kita?
Sementara jalan-jalan mekar di mana-mana
menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
yang ada. Tapi siapakah yang mampu menjembatani
jurang di antara kita?
Di lembah-lembah kusam pada pucuk tulang kersang
dan otot linu mengerang mereka pancangkan koyak-moyak
bendera hati dipijak ketidakpedulian pada saudara
Berimis tak mampu menguncupkan kibarannya.
Lalu tanpa tangis mereka menyanyi:
padamu negeri
airmata kami

Read Users' Comments (0)

embun pagi

aku ditampar serpihan angin pagi itu
seperti bertanya-tanya pada malam kemarin
dedaunan rapuh terperangkap dingin
membasuh pagi dengan embun yang bergetar

aku meresapi tiap denyut nafas angin
mengurungku dalam pedih yang bergetir
musnahkan gerak dan memutus langkah yang tersedak
terhempas hilang kabut malam

merepih waktu terkikis diri
menggerus sukma dalam peluk sejuk malam
menggerutu dalam senja yang mendekap
meringis memandangi cerita hari kemarin

sampai senja diri
sukar hati harus memahami
menunggu fajar baru datang lagi
hingga kembali pagi meramah diri 

Read Users' Comments (0)

Apa sih Kalah TERHORMAT itu?

Lagi, lagi, dan lagi. Indonesia menerima kekalahan di final, kali ini dalam ajang Sea Games, setelah ditekuk Malaysia dengan adu penalti.

Kali ini saya tertarik untuk membahas beberapa komentar masyarakat tentang final event paling bergengsi di Sea Games ini.

sebelum final dimulai, suporter dari kedua kubu sama-sama memprediksi menang. Yang berbeda, suporter Indonesia memprediksi kita akan menang besar. sedangkan suporter Malaysia memiliki komentar yang sederhana, mereka mengakui kita kuat, jadi mereka memprediksi mereka akan menang selisih gol yang sedikit. Inilah perbedaan antara suporter yang percaya diri dan sedikit sombong dengan suporter yang rendah hati.

alhasil, kita kalah dalam adu penalti. Namun, saya sangat setuju dengan sikap sebagian suporter Indonesia yang dapat menerima kekalahan dengan lapang dada.

sebagian berkomentar bahwa kita bermain dengan cukup bagus, namun hanya nasib sial saja. memang saya akui permainan Malaysia lebih baik dari permainan tim nasional kita. banyak yang bilang kita kalah terhormat, karena kita kalah tos-tosan. Tapi, itu memang kalah terhormat, tapi kalah terhormat bukancuma kalah hanya karena adu penalti. Tetapi, kalah terhormat adalah kekalahan yang diterima tim secara sportif, terus bertanding hingga akhir, tidak menyerah di tengah petandingan. kalah 5-0 pun jika tetap bertanding sampai akhir, itu juga kalah terhormat. Jadi, bukan cuma adu penalti. tapi, terus bertanding hingga akhirlah merupakan kekalahan yang terhormat.

Read Users' Comments (0)

Kita yang kurang ber-Syukur

ini hanya sebuah catatan kecil, mungkin tak terlalu penting. tidak ada maksud menyindir siapa pun. hanya menurut pengamatanku saja. orang, bahkan kita, yang masih tidak bersyukur.

Malam ini akhirnya hujan kembali turun. sebuah hal yang jarang semenjak bulan Agustus. Bulan-bulan sebelumnya, kita sering mengeluh "aah, ujan lagi". dengan alasan "barusan udah nyuci motor, udah kotor lagi", atau "cucian aku masih banyak, ujaaaaan terus". dan banyak lagi.

kita semua mengerti, banyak yang berkata ucapan itu adalah do'a. dan itu real saja menurutku. Tuhan mendengar keluhan kita. ucapan kita, ingat, secara tidak langsung perkataan diatas adalah sebuah penolakan, ketidaksetujuan terhadap nikmat Tuhan. kemudian Tuhan "menuruti" kemauan kita. mendengar keluhan umatnya yang tidak pernah puas dengan nikmat yang telah diberikan. Dia ubah menjadi kemarau. alhasil, dalam dua bulan ini. hujan sangat jarang terjadi. tanah menjadi kering kerontang, sumur kering, air semakin turun. 

lalu manusia? kita? apakah akan bersyukur dengan dihilangkannya hujan. banyak kita yang bersuara "ngapain lagi hujan ga turun-turun, sumur dirumah udah mau kering". banyak yang mengeluh kekurangan air. kita selalu menyalahkan sesuatu yang seharusnya kita sadari. kita terlalu banyak kehendak, masih beruntung Tuhan masih mendengar perkataan kita. 

dikasih hujan, protes. diberi kemarau, selalu saja ngoceh. sama saja kita tidak menerima keputusan Tuhan kan??

malam ini, ada temanku yang membuat status "ai, dak jadi lagi dak jadi lagi. ngp lah pake acara ujan pulak" padahal kemarin dia mengeluh kenapa hujan tidak turun-turun. sadar dong, kita JANGAN MENGATUR TUHAN. bersyukurlah atas segala nikmat yang Dia berikan. sudah terlalu banyak nikmat-Nya yang kita syukuri.


#mohon maaf jika ada yang tersinggung, ini hanya sebuah pendapat dari saya. untuk mengintropeksi diri. dan sadar bahwa dunia ini ada yang mengatur nya, itu saja.

Read Users' Comments (0)

Satu Jam Saja

Dipopulerkan oleh Audy dan Lala Karmela


jangan berakhir aku tak ingin berakhir
satu jam saja kuingin diam berdua
mengenang yang pernah ada

jangan berakhir karena esok takkan lagi
satu jam saja hingga kurasa bahagia
mengakhiri segalanya

tapi kini tak mungkin lagi
katamu semua sudah tak berarti
satu jam saja
itupun tak mungkin, tak mungkin lagi

jangan berakhir kuingin sebentar lagi
satu jam saja ijinkan aku merasa
rasa itu pernah ada

Read Users' Comments (0)