Untuk Pak Chory, Guruku
Senja itu kembali menguak saat langit tampak memucat
matahari mulai bersandar ke barat seraya menyelimuti kilaunya
Senja kali ini
berbeda
saat ilalang meyayat remah-remah masa lalu yang tersingkap lewat tabir
bisunya
bayangmu erat mendekap duka menyelimuti kenangan
gambaran itu mungkin sudah berdebu
tinggal memorial yang masih bersenandung dalam ruang keheningan
memunguti sisa-sisa tawa dan perih yang tersemat dalam hari-hari
dulu, sesaat ketika tawa kita masih dapat berpadu
senda-gurau enggan berpaling saat kau yang menyemaikannya
seonggok cerita dan lelucon terbias dan menghambur dalam sukacita
sesaat sewaktu tatap kita masih dapat bertemu
kau adalah kupu-kupu putih bersayap hitam
melayang dalam sukma, sajak-sajak basah dan tak pernah kering
mendekap erat dada yang sesak engkau tinggalkan
sesaat rindu mendekap dan mata terpicing bahwa yang nyata hanyalah buaian
tak ada cerita segar mengarungi pagi hingga siang di sudut ruang gelap
yang tampak terang, di sana kau bercerita banyak hal
di sana kau bernayanyi, bersajak, dan mengepakkan sayap anak-anak merpati
di sana kau bercinta
di sana kau duduk manis mengolok kami yang bodoh
di sana,
ruang Bahasa Indonesia II
Memorial Bahasa Indonesia II
20.39 |
Satu
20.11 |
(oleh; Muhammad Ihwan)
Untuk mawarku yang berselimut putih salju
kita bersama-sama mendekap kelamnya laut
kau tak pernah mengerti
kita pernah saling bertanya tentang buramnya senja
kau tak pernah pahami
kita pernah saling melukai dengan sembilu dusta
kau tak pernah turuti
aku dan kau adalah remah-remah malam yang menyatu
dalam lembut dan sesaknya sunyi
kita merebak untuk berdiam diri
aku dan kau adalah kebiruan laut yang hitam
dalam hening buram
dalam teriak mematikan
tidakkah kau paham kalau kau dan aku adalah satu
seperti urat nadi yang menggigil berselimut darah
kau adalah cermin dan aku membingkaimu
saat kau terburai aku menghampa
kau dan aku adalah satu, perpaduan senja dan mentari yang membisu
kita diam dalam satu,
tak pernah bicara untuk jadi satu
Kenapa Harus UNSRI? Kenapa Harus ELEKTRO?
05.26 |
Mungkin jika yang membaca ini adalah sahabatku semasa SMA, mereka tahu bahwa Universitas yang aku sangat ingin aku jangkau adalah ITB. Di dorong dengan minatku yang ingin masuk ke Teknik, dan tentunya kita tahu bahwa ITB adalah Universitas Teknik terbaik di Indonesia (pendapat sebagian masyarakat, di dukung persentase peminat tiap tahun dan passing grade yang dibuat oleh pusat bimbingan belajar swasta). Di lain sisi, salah satu kakakku adalah alumni dari sana, dia lulusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Industri atau FTI (perlu diketahui memang saat ini Teknik Mesin di ITB terdapat pada Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara atau FTMD, tapi saat itu Teknik Penerbangan dan Astronika sempat ditiadakan, bahkan FTTM belum ada dan Teknik Perminyakan serta Teknik Pertambangan tergabung dalam FIKTM bersama Teknik Geologi dan kawan-kawannya). Melihat kakakku yang belum resmi wisuda sudah mendapat undangan kerja kemana-mana, aku jadi sangat tertarik. Akhirnya, aku putuskan untuk SNMPTN undangan aku memilih ITB.
Mungkin jika kalian yang membaca postingan ini mengetahui begitu panjangnya jalan sehingga aku akhirnya ter-entri dalam Teknik Elektro Universitas Sriwijaya. Jalan panjang yang kumaksudkan bukan berarti aku telah menempuh perjalanan begitu panjang hanya untuk masuk ke TE Unsri, melainkan begitu banyak tempat yang aku gagal singgahi, sampai akhirnya aku menginjak pedal rem pada Universitas bunga teratai ini.
Aku cukup bingung memilih Prodi mana yang sesuai untukku. Akhirnya aku mimilih prodi yang aku pilih pertama di ITB dulu. Ya, Teknik Elektro. alasannya simpel. Karena hanya perlu mendalami fisika di sana. Tidak kimia, apalagi Biologi.
Soal tes tersebut sangat berbeda dengan SBMPTN jika dilihat dari tingkat kesulitan. Jika saat SBMPTN aku masih sibuk mengerjakan soal sampai waktu habis. Saat USM masih tersisa 30 menit untukku bersantai. Aku cukup pede dengan hasil yang kuraih, aku yakin bisa lolos kali ini.
tangga 21 Juli. Hari pengumuman, bertepatan dengan tes STAN. sampai pukul 22.00 WIB belum juga keluar. Hingga aku tertidur, dan mendapati diriku terbangun saat waktu sahur tiba. Aku buka tab kakakku, di sana tertera lengkap. Mulai dari nama, Fakultas, Jurusan, dan UKT ku yang meledak. All is Well, setidaknya aku sudah mendapat tempat kuliah untuk tahun ini. Rekanku yang lulus hanya dua orang, yaitu Bicik dan Linsun. Aku berharap Eben, Nces, dan Kiki juga lulus sehingga aku masih memiliki banyak teman di sini.
Setelah melakukan registrasi ulang via online dan langsung ke Indralaya. Aku resmi menjadi Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Sriwijaya melalui jalan yang cukup panjang dan berliku-liku untuk mencapai titik ini. Meskipun saat aku coba almamater ku masih tidak muat -_-.
But all isn't bad. Banyak cerita dan hikmah yang dapat aku petik dari sini. 42 hari di Palembang dalam perjuangan mencari Universitas memberikan banyak pengalaman. Mungkin jalanku memang ke Unsri, mungkin Teknik Elektro memang prodi yang tepat buatku. I know Allah's more than know what we never know. and I believe that, i believe Him. Setidaknya aku harus fokus mencapai target "cepat selesai" kuliahku, sehingga dapat meringankan beban kak Fadhil dan orangtua ku. hahaha.
and than, i hope if there's SMANSA BATARI student who reads this article, please join me at Electrical Engineering University of Sriwijaya. Because Electrical is fun, and one more, I'm still alone in here, in Electrical Engineering Unsri. You know? I'am the first generation from SMANSA BATARI that be a Student at Electrical Engineering Unsri. hehehe.
Wait me at socialization at SMANSA. and i'll show you that Electrical Engineering isn't Fuck, but Electrical Engineering in FUN. FUN not FUCK. Electrical Engineering is a Profession for Intelligent People. Salam Petir!
Comeback, i'm student in College now!
16.36 |
Tentu panjang sekali cerita yang harus saya paparkan di sini, mungkin akan saya bagikan dalam entri berikutnya. Setidaknya, saya sudah kembali mengurusblog yang berdebu ini. Read Users' Comments (0)
Pertemuan
17.37 |
Jembatan
17.33 |
Sutardji Colzoum Bachri
Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung
airmata bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap
dalam basa-basi dalam ewuh pekewuh dalam
isyarat dan kilah tanpa makna
Maka aku pun pergi menatap pada wajah
orang berjuta
Wajah orang jalanan yang berdiri satu kaki
dalam penuh sesak bis kota
Wajah orang tergusur
Wajah yang ditilang malang
Wajah legam pemulung yang memungut
remah-remah pembangunan
Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar
penonton etalase indah di berbagai plaza
Wajah yang diam-diam menjerit melengking
melolong dan mengucap:
tanah air kita satu
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu
Tapi wahai saudara satu bendera, kenapa
kini ada sesuatu yang terasa jauh beda di antara kita?
Sementara jalan-jalan mekar di mana-mana
menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
yang ada. Tapi siapakah yang mampu menjembatani
jurang di antara kita?
Di lembah-lembah kusam pada pucuk tulang kersang
dan otot linu mengerang mereka pancangkan koyak-moyak
bendera hati dipijak ketidakpedulian pada saudara
Berimis tak mampu menguncupkan kibarannya.
Lalu tanpa tangis mereka menyanyi:
padamu negeri
airmata kami
embun pagi
17.17 |
aku ditampar serpihan angin pagi itu
seperti bertanya-tanya pada malam kemarin
dedaunan rapuh terperangkap dingin
membasuh pagi dengan embun yang bergetar
aku meresapi tiap denyut nafas angin
mengurungku dalam pedih yang bergetir
musnahkan gerak dan memutus langkah yang tersedak
terhempas hilang kabut malam
merepih waktu terkikis diri
menggerus sukma dalam peluk sejuk malam
menggerutu dalam senja yang mendekap
meringis memandangi cerita hari kemarin
sampai senja diri
sukar hati harus memahami
menunggu fajar baru datang lagi
hingga kembali pagi meramah diri


